Kritik Kegagalan Sistemik Olahraga Nasional, Sadik Algadri Tawarkan 5 Pilar Reformasi, Rocky Gerung Ikut Bicara

 Kritik Kegagalan Sistemik Olahraga Nasional, Sadik Algadri Tawarkan 5 Pilar Reformasi, Rocky Gerung Ikut Bicara

Dari kiri: Mahfuddin Nigara, Sadik Algadri, Rocky Gerung, Asro Kamal Rokan, dan Yunyun Yudiana. FOTO: JOKO DOLOK

KORANPLUS.COM – Sejak lengsernya Presiden Soeharto pada Mei 1998, tren penurunan prestasi olahraga Indonesia memperlihatkan kecenderungan yang sangat memprihatinkan. Salah satu tolok ukur yang valid adalah kiprah Indonesia di SEA Games, ajang multi-event terbesar di tingkat Asia Tenggara.

Sejak terakhir kali menjadi juara umum pada SEA Games 1997 di Jakarta, Indonesia tidak pernah lagi berada di posisi teratas, kecuali saat kembali menjadi tuan rumah pada SEA Games 2011. Artinya, di hampir semua cabang olahraga, prestasi para atlet Indonesia tak lagi dapat dibanggakan secara konsisten.

Bukan tidak ada upaya dari pemerintah melalui Kemenpora dan KONI Pusat. Sebut saja Program Indonesia Bangkit yang dilahirkan pada 2004 untuk menggantikan kebijakan Program Indonesia Emas yang dicanangkan sejak 1995.

Hingga kini, program dan kebijakan terus berganti—termasuk Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) yang digulirkan menggantikan Satlak Prima—sebagian besar berakhir sebatas dokumen di atas kertas. Prestasi olahraga Indonesia secara umum masih memprihatinkan.

Sadik Algadri, mantan pejudo nasional yang juga Staf Ahli KONI Pusat, menjadi salah satu tokoh yang resah melihat fakta tersebut.

“Semuanya berakhir hanya di atas kertas,” ujar Sadik dalam acara peluncuran dan bedah buku karyanya, Membangun Otot di Negeri Kertas, di Gedung Serbaguna Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (5/9/2026).

Pada diskusi buku 152 halaman dan disunting oleh wartawan olahraga Suryansyah ini hadir akademisi Rocky Gerung, wartawan senior olahraga Asro Kamal Rokan yang juga masuk sebagai tim penyunting, serta Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Prof. Yunyun Yudiana, dengan wartawan senior Mahfuddin Nigara bertindak sebagai moderator.

Menurut Sadik, pembangunan olahraga Indonesia terlalu lama berkutat pada dokumen kebijakan, anggaran, dan rapat birokrasi—yang ia sebut sebagai “kertas”. Sementara aspek “otot” seperti kualitas latihan, sport science, nutrisi, dan kapasitas pelatih justru kurang mendapat perhatian serius.

Dalam kaitan ini, akademisi Rocky Gerung menilai fluktuasi prestasi yang sporadis dan tidak stabil merupakan alarm struktural yang membongkar adanya kerapuhan sistemik dalam tata kelola olahraga negara.

Dalam pemaparannya, Sadik juga menyoroti potensi pelanggaran terhadap Olympic Charter jika pemerintah terlalu jauh mengintervensi teknis pembinaan olahraga yang dapat berujung pada sanksi internasional.

Menurutnya, pemerintah melalui Kemenpora seharusnya bertindak sebagai regulator dan fasilitator, serta menyerahkan sepenuhnya pembinaan prestasi teknis kepada federasi dan KONI Pusat selaku perpanjangan tangan IOC.

Ia menilai olahraga di Indonesia masih sering ditempatkan sebagai alat politik atau legitimasi jangka pendek, bukan instrumen pembangunan bangsa untuk mengusung martabat negara layaknya di Jepang, Korea Selatan, atau negara tetangga di Asia Tenggara. Di negara-negara maju, olahraga dipandang sebagai bagian dari peradaban yang dikelola dengan kebijakan konsisten, pendanaan memadai, dan tata kelola profesional.

“Di Indonesia, prestasi kerap dirayakan sebagai keberhasilan pemerintah yang sedang berkuasa. Di sisi lain, kegagalan tidak diikuti evaluasi dan refleksi struktural yang jujur,” kritiknya.

Meski demikian, Sadik menegaskan buku Membangun Otot di Negeri Kertas lahir bukan dari kemarahan semata, melainkan bentuk pertanggungjawaban etis untuk memicu evaluasi total. Ia menawarkan lima pilar reformasi olahraga Indonesia:

Reposisi Peran Negara: Negara bertindak tegas sebagai regulator dan fasilitator tanpa mengintervensi urusan teknis pembinaan di federasi.

Reformasi Anggaran: Pembinaan atlet tidak boleh terus bergantung pada siklus anggaran tahunan APBN/APBD yang fluktuatif. Pemerintah selayaknya mendorong institusi swasta mengambil peran agar ekosistem bisnis olahraga tumbuh.

Birokrasi Berbasis Data: Penunjukan atlet dan pelatih wajib berdasarkan sport science, data valid, dan prestasi, guna menghentikan praktik atlet titipan akibat faktor kedekatan nonteknis.

Pembinaan Terintegrasi: Membangun sistem pencarian dan pengembangan talenta berjenjang yang terhubung secara berkelanjutan dari daerah hingga pusat.

Kemandirian Ekonomi: Membangun ekosistem bisnis olahraga yang sehat melalui sponsorship, hak siar, hingga merchandising.

Selain itu, Rocky Gerung menambahkan bahwa peta jalan (road map) kesejahteraan atlet pascapensiun juga harus menjadi perhatian utama pemerintah, mengingat banyaknya kasus mantan atlet peraih medali emas yang terlantar di usia tua.

Melalui buku ini, Sadik berharap para pemangku kepentingan berani mengakui kekurangan dan mengambil langkah nyata demi perbaikan peradaban olahraga nasional.

Sebaliknya. kalau begini-begini terus, kapan olahraga Indonesia bisa bersaing di kancah SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade? Indonesia Emas 2045 bisa juga diartikan olahraga Indonesia setidaknya masuk 5 Besar di Olympic Games.***

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *