Menuju Mei Bulan Ismail Marzuki – Harta Karun Ismail Marzuki Telantar: Antara Obsesi Museum yang Fana dan Film Biopik yang Mati Suri

 Menuju Mei Bulan Ismail Marzuki – Harta Karun Ismail Marzuki Telantar: Antara Obsesi Museum yang Fana dan Film Biopik yang Mati Suri

Gagasan Besar CGR: Mei Sebagai Bulan Ismail Marzuki

Sastrawan dan budayawan Betawi, Chairil Gibran Ramadhan (CGR), melontarkan gagasan penting: menetapkan Mei sebagai Bulan Ismail Marzuki. Pilihan bulan ini bukan tanpa alasan. Sang Maestro lahir pada 11 Mei 1914 di Kwitang dan wafat pada 25 Mei 1958 di Tanah Abang.

CGR menilai Ismail Marzuki adalah satu-satunya komponis yang berhasil memotret setiap jengkal sejarah Revolusi Indonesia melalui nada. Mulai dari lagu patriotik seperti Gugur Bunga dan Halo-Halo Bandung, hingga karya romantis nan abadi seperti Juwita Malam. Demi menjaga orisinalitas gagasan “Bulan Ismail Marzuki” ini agar tidak diklaim pihak lain, CGR berencana mendaftarkannya ke Dirjen HAKI.

Fakta Tragis: Janji Museum yang Menguap

Di balik kemasyhuran namanya, tersimpan cerita pilu mengenai warisan fisiknya. Rachmi Aziah, putri tunggal Ismail Marzuki, mengungkapkan bahwa pada masa Gubernur Sutiyoso, barang-barang peninggalan ayahnya diambil oleh pihak PKJ Taman Ismail Marzuki (TIM) dengan janji pembangunan museum.

Namun, hingga tahun 2026, museum tersebut tak kunjung berdiri. Mirisnya, barang-barang bersejarah itu dikabarkan teronggok tanpa perawatan yang layak. Bahkan, upaya CGR untuk melihat aset-aset tersebut guna keperluan riset selalu dijegal oleh pengelola.

Lika-Liku Film Biopik: Birokrasi yang “Tuli”

Perjuangan CGR untuk mengangkat kisah hidup sang pahlawan ke layar lebar juga menemui jalan buntu yang menyesakkan:

  • Birokrasi Jakarta: Pengajuan dokumenter pada 2018 di Disparbud DKI patah di tengah jalan dengan alasan syarat formal yang tidak jelas.
  • Ketidakpedulian Jawa Barat: Saat menghadap Kadisparbud Jawa Barat, Ida Hernida, tim film justru disambut dengan pernyataan bahwa sang pejabat tidak suka menonton film dan lebih memilih membicarakan acara sepeda gembira.
  • PPFN yang Lumpuh: Meski mengakui naskah CGR sangat matang, Perusahaan Produksi Film Negara (PPFN) hingga tahun 2026 belum bergerak akibat kendala dana.

Naskah Matang yang Menanti Visual

Padahal, naskah yang ditulis CGR menggambarkan sisi manusiawi Ismail Marzuki secara utuh. Film ini direncanakan memotret perjalanan hidup pemuda kaya dan terpelajar yang memilih jalan musik, kisah cintanya dengan Euis, hingga keberaniannya menentang penjajahan Jepang yang berujung pada kekerasan fisik.

Ismail Marzuki bukan sekadar pemusik; ia adalah nasionalis yang menyuarakan perlawanan lewat radio swasta dan mencatat kepedihan perang melalui lagu. Kini, naskah biopik bertajuk Ismail Marzuki: Nada. Cinta. Bangsa. hanya bisa menunggu di rak birokrasi, menanti eksekusi yang layak bagi seorang Pahlawan Nasional.***

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *