Terungkap Alasan Nyeleneh Arteta Sengaja Pasang Gabriel di Momen Hidup-Mati Arsenal
KORANPLUS.COM – Laga final Liga Champions, Sabtu (30/5) antara Arsenal dan Paris Saint-Germain, benar-benar menyuguhkan tontonan yang memenuhi semua ekspektasi.
Pertandingan langsung condong ke arah The Gunners saat laga baru berjalan lima menit, ketika Kai Havertz melepaskan tembakan keras ke langit-langi gawang Les Parisiens.
Namun, keunggulan ini bertahan hingga menit ke-64, sebelum mantan pemenang Ballon d’Or, Ousmane Dembele, menyamakan kedudukan lewat titik putih yang gagal dihalau oleh lompatan David Raya.
Meskipun raksasa Prancis tersebut melancarkan beberapa tembakan tepat sasaran, skor tetap imbang. Alhasil, setelah dua babak perpanjangan waktu dilalui tanpa gol tambahan, pertandingan pun harus ditentukan lewat adu penalti.
Karena kedua tim telah melakukan beberapa pergantian pemain di sepanjang laga, susunan eksekutor penalti yang tersisa pun menjadi agak acak. Hal ini terlihat jelas menjelang akhir giliran Arsenal.
Setelah nama-nama seperti Viktor Gyökeres, Declan Rice, Gabriel Martinelli, dan Eberechi Eze maju mengeksekusi tugas mereka, tibalah giliran Gabriel melangkah ke titik putih.
Setelah melakukan ancang-ancang yang sempat tersendat, bek asal Brasil tersebut justru menembak bola melambung di atas mistar gawang. Kegagalan itu sekaligus mengubur mimpi Arsenal untuk dinobatkan sebagai raja Eropa.
Melihat seorang bek tengah maju sebagai algojo penalti memang bukan hal yang lumrah, meski bukan berarti tidak pernah terjadi. Salah satu contoh terkenalnya adalah Harry Maguire yang menjadi bagian dari daftar penendang penalti pilihan Gareth Southgate di timnas Inggris.
Namun, mengingat betapa besarnya taruhan dari keputusan tersebut, beberapa pihak mempertanyakan mengapa Mikel Arteta memasang pemain asal Brasil itu di urutan kelima—sebuah pilihan yang sebenarnya diambil Arteta dengan penuh keyakinan.
“Sejujurnya, dia [Gabriel] sendiri yang mengajukan diri untuk mengambil tendangan kelima, kami sudah mempersiapkan dan melatih momen ini,” ujar Arteta kepada media setelah kekalahan tersebut.
“Biasanya, para penendang penalti utama kami adalah Bukayo, Martin, dan tentu saja Kai. Kami sudah tahu bahwa jika pertandingan berlanjut ke babak perpanjangan waktu hingga adu penalti, para eksekutornya akan diisi oleh pemain-pemain yang berbeda…”
Final Liga Champions digelar di Puskas Arena, Budapest, Hongaria. Laga sepanjang 120 menit berlangsung draw 1-1. Dalam drama adu penalti, PSG menang 4-3.***