Bangkit dari Kekalahan dari Crawford, Canelo Alvarez Merapat ke Tim Usyk di Spanyol untuk Pertarungan di Riyadh
Canelo Alvarez berlatih di kem Oleksandr Usyk di Spanyol. Foto: IG/ringmagazine
KORANPLUS.COM — Bintang tinju dunia asal Meksiko, Saul ‘Canelo’ Alvarez, melakukan langkah mengejutkan dalam pemusatan latihannya di Spanyol. Petinju berusia 36 tahun itu kedapatan berlatih bersama mantan raja kelas berat dunia, Oleksandr Usyk, jelang laga perebutan gelar kelas menengah super melawan juara WBC Christian Mbilli pada 31 Oktober di Riyadh, Arab Saudi.
Hingga saat ini, laga tersebut dipastikan tetap berjalan sesuai rencana meski terdapat dinamika konflik di wilayah kawasan tersebut.
Alvarez tampak fokus penuh pada tugas besar di depannya. Di usianya yang tak lagi muda, Canelo mengusung misi besar untuk merebut kembali sebagian dari takhta menengah super miliknya sekaligus membuktikan kepada dunia bahwa kariernya belum tamat.
Canelo, yang memiliki rekor bertanding 63-3-2 (39 KO), terakhir kali naik ring 13 bulan lalu saat kalah angka mutlak dari Terence Crawford dalam duel 12 ronde. Usai kemenangan tersebut, Crawford memilih melepas empat sabuk juara kelas menengah super yang diraihnya dan memutuskan pensiun dari dunia tinju.
Namun, Alvarez menegaskan dirinya masih memiliki ambisi besar untuk terus bertarung di level tertinggi.
Belajar Taktik dan Fisik dari Tim Usyk
Mengenai kolaborasi uniknya dengan Usyk di Spanyol, Canelo membeberkan kedekatannya dengan petinju asal Ukraina tersebut saat diwawancarai oleh The Ring.
“Usyk dan saya selalu menjadi teman yang sangat baik. Kami selalu mengobrol setiap kali bertemu dan saling menghormati,” kata Canelo.
“Saya melihat banyak video latihan mereka lalu bertanya. Mereka menyambut saya di gym, dan saya sangat mengapresiasi hal itu. Mereka mengajari saya banyak hal, dan saya belajar dengan sangat cepat. Saya menyukainya, menikmatinya, dan merasa sangat baik.”
Canelo menambahkan bahwa metode latihan fisik dan pengondisian fisik (strength and conditioning) yang diberikan tim Usyk memberikan wawasan baru baginya.
“Dalam hal kekuatan dan pengondisian fisik, saya mempelajari hal-hal baru. Saya sangat menghargai mereka karena mereka menyalurkan seluruh energinya untuk saya dan menyesuaikan semuanya berdasarkan kebutuhan taktik dari pelatih saya, Eddy Reynoso. Itu sangat luar biasa.”
Usyk di Persimpangan Jalan Karier
Di sisi lain, Oleksandr Usyk (25-0, 16 KO) sendiri berada di persimpangan jalan kariernya di usia 39 tahun.
Petinju tak terkalahkan itu terakhir kali bertanding pada Mei lalu di Mesir. Kala itu, Usyk sempat kesulitan menghadapi gaya bertarung tidak biasa dari petinju underdog bertubuh raksasa, Rico Verhoeven, sebelum akhirnya mengunci kemenangan TKO di ronde ke-11.
Beberapa pekan setelah laga tersebut, Usyk memutuskan untuk melepas tiga sabuk juara dunia kelas beratnya. Ia menegaskan ingin fokus pada satu pertarungan terakhirnya tanpa tekanan dari badan-badan organisasi tinju dunia yang memaksakan lawan wajib.
Sejak saat itu, nama petinju berjuluk The Cat ini gencar dikaitkan dengan beberapa potensi pertarungan besar, mulai dari duel melawan Deontay Wilder, David Benavidez, hingga laga trilogi melawan Tyson Fury.***