Bukan Sekadar Tinju, Inilah Alasan Mengapa Muhammad Ali Adalah Manusia Paling Berpengaruh Abad ke-20
KORANPLUS.COM – Muhammad Ali tidak pernah hanya sekadar petinju. Lahir dengan nama Cassius Marcellus Clay Jr. pada 17 Januari 1942 di Louisville, Kentucky, ia tumbuh menjadi tokoh global yang pengaruhnya jauh melampaui ring tinju.
Dengan kecerdasan yang tajam, kepercayaan diri yang tak kenal takut, dan kemampuan atletik yang tak tertandingi, Ali menjadi salah satu tokoh olahraga paling dikenal dan berpengaruh di abad ke-20.
Kutipan Muhammad Ali dan Maknanya
Salah satu kutipan Ali yang paling abadi, “Jangan berhenti. Menderitalah sekarang dan jalani sisa hidupmu sebagai seorang juara,” memberikan gambaran tentang pola pikir yang mendorongnya.
Melalui kata-kata ini, sang legenda mengakui bahwa jalan menuju kesuksesan jarang sekali terasa nyaman. Latihan, disiplin, dan pengorbanan diri sering kali melibatkan rasa sakit dan kelelahan.
Namun, alih-alih melihat perjuangan sebagai alasan untuk berhenti, ia memandangnya sebagai langkah penting menuju keagungan.
Makna dari kutipan tersebut terletak pada kejujurannya. Muhammad Ali tidak pernah berpura-pura bahwa kerja keras itu mudah atau menyenangkan.
Dengan mengakui bahwa ia membenci setiap menit masa latihannya, pesannya menjadi lebih relevan bagi banyak orang. Yang terpenting adalah penolakannya untuk menyerah.
Menurut Ali, menanggung kesulitan di masa sekarang akan membangun kekuatan, karakter, dan kepercayaan diri yang bertahan seumur hidup. Sebaliknya, menyerah hanya akan berujung pada penyesalan.
Relevansi pesan ini terasa sangat kuat saat ini. Di dunia di mana kesuksesan instan dan penghargaan cepat sering dipuja, kata-kata Ali berfungsi sebagai pengingat bahwa pencapaian sejati membutuhkan waktu. Baik itu membangun karier, menempuh pendidikan, meningkatkan kebugaran, atau pengembangan diri, kemajuan biasanya datang dengan hambatan dan ketidaknyamanan.
Kutipan Ali mendorong kesabaran, konsistensi, dan ketangguhan—nilai-nilai yang tetap esensial lintas generasi.
Bagi yang belum tahu, Muhammad Ali menggebrak panggung internasional pada awal 1960-an dan mencetak sejarah di usia 22 tahun dengan menjadi petinju termuda yang memenangkan kejuaraan dunia kelas berat.
Dia tidak hanya memenangkan pertarungan; dia mengubah wajah dunia tinju. Gerakan kaki yang cepat, pergerakan yang lincah, dan gaya yang tidak konvensional membedakannya dari rekan-rekan sejawatnya.
Ali sering merangkum pendekatannya dengan gaya yang flamboyan, mengibaratkan dirinya seperti kupu-kupu yang melayang dan lebah yang menyengat dengan presisi. Kepercayaan diri itu, yang didukung oleh bakat, membuatnya tak terhentikan di masa jayanya.
Ali tidak hanya mengkhotbahkan filosofi ini; dia menjalaninya. Kariernya penuh dengan pertempuran fisik dan pengorbanan pribadi.
Di luar ring, ia menunjukkan keberanian yang sama ketika menolak ikut wajib militer dalam Perang Vietnam, demi mempertahankan keyakinan agama dan moralnya.
Keputusan itu membuatnya kehilangan lisensi tinju dan gelar juaranya di puncak karier, namun hal itu juga mengukuhkan reputasinya sebagai pria yang menjunjung tinggi prinsip di atas ketenaran.
Di tahun-tahun berikutnya, Ali menjadi simbol perdamaian dan kerja kemanusiaan global, bahkan saat ia berjuang melawan penyakit Parkinson dengan kekuatan yang tenang.
Ketika ia wafat pada 3 Juni 2016, dunia kehilangan lebih dari sekadar legenda olahraga.
Hingga kini, banyak petinju hebat, banyak petinju terkenal. Tapi yang sehebat, setenar, dan tak dipuji, tetap Muhammad Ali seorang.***