3 Gelar Liga Champions, Luis Enrique Samai Pep Guardiola
Luis Enrique mengangkat trofi Liga Champions Eropa usai PSG kalahkan Arsenal di partai final. Foto: psg.fr
KORANPLUS.COM – Luis Enrique kini masuk dalam jajaran pelatih top dunia, setelah berhasil membawa Paris Saint-Germain (PSG) menjuarai Liga Champions dua musim beruntun musim 2024/2025 dan 2025/2026.
Trofi yang diraih musim ini, menjadi gelar Liga Champions ketiga dalam kariernya, setelah sebelumnya, Enrique meraih gelar Liga Champions pertamanya bersama Barcelona pada tahun 2015 silam.
Pencapaian musim ini juga membuat pelatih asal Spanyol itu sejajar dengan sejumlah nama besar seperti Pep Guardiola, Zinedine Zidane, dan Bob Paisley yang sama-sama mengoleksi tiga trofi Piala Champions Eropa/Liga Champions.
Meski telah mengoleksi tiga gelar, Luis Enrique masih berada di bawah bayang-bayang Carlo Ancelotti dalam daftar pelatih tersukses sepanjang sejarah Liga Champions. Pelatih asal Italia tersebut masih memegang rekor terbanyak dengan raihan lima trofi. Don Carletto memenangkan 2 saat Bersama Milan (2003, 2007), dan 3 kala membesut Real Madrid (2014, 2022, 2024).
Enrique juga menjadi pelatih kedua dalam sejarah, yang meraih treble winner (tiga gelar) domestik dan Eropa di dua klub berbeda, yaitu kala menahkodai Barcelona pada 2014/2015, dan PSG. Mantan pelatih AS Roma itu menyamai prestasi yang dipegang oleh kompatriotnya asal Spanyol, Pep Guardiola.
Dengan tangan dingin Enrique, PSG berhasil menjadi tim kedua di era Liga Champions, yang mampu mempertahankan gelar secara beruntun, setelah sebelumnya dilakukan oleh Real Madrid. PSG pun menjadi tim asal prancis pertama yang menjuarai Liga Champions ‘back to back’.
Prestasi tersebut menunjukkan keberhasilan ide dan gagasan sepak bola yang dibangun Luis Enrique sejak menangani Les Parisiens. Di tengah persaingan ketat klub-klub elite Eropa, PSG mampu menjaga konsistensi performa hingga kembali berdiri di podium tertinggi.
“Tahun ini terasa lebih kuat karena kami tahu sebelum pertandingan betapa sulitnya menghadapi tim Arsenal ini. Bagi kami, sebagai sebuah tim, sebagai sebuah kota, kemenangan ini sungguh luar biasa dan kami pantas mendapatkannya atas cara kami bermain sepanjang musim ini. Finalnya sangat ketat. Tapi sekarang saatnya untuk merayakan bersama para pendukung kami.” Ujar Enrique pasca laga Final Liga Champions kontra Arsenal.
Di bawah kepelatihannya, Enrique mampu mengembangkan permainan koletivitas tim, dengan mengandalkan penguasaan bola. Ia juga tak segan mendepak pemain yang tak mampu bekerja sama secara tim, seperti Kylian Mbappe yang di lepas ke Real Madrid.
Enrique secara terbuka menyatakan bahwa ia lebih memilih tim bermain dengan sistem taktiknya daripada bergantung pada satu bintang. Ia juga menganggap kepergian Mbappé dari Paris Saint-Germain adalah masa lalu yang memungkinkan tim berkembang secara merata.
“Saya lebih baik punya empat pemain yang cetak masing-masing 12 gol dibanding satu pemain yang cetak 40 gol,” ujarnya di awal musim 2024/2025 lalu, seperti dilansir dari TNT Sports.
Pernyataanya pun terbukti hingga kini. Sepeninggal Mbappe, PSG masih memiliki lini depan tajam yang dihuni Kvaratskhelia, Ousmane Dembele, Desire Doue, Bradley Barcola, hingga Goncalo Ramos. Amunisi penyerangan PSG pun makin dimanjakan dengan barisan gelandang kreatif macam Joao Neves, Vitinha, Fabian Ruiz, dan bintang muda Warren Zaire-Emery.
Dengan komposisi pemain merata dan taktik kolektif ala Luis Enrique, PSG kini telah menjelma menjadi kekuatan baru sepak bola di benua Eropa.