Pentas Hiburan Buang Anggaran: Bisakah Bang Doel Selamatkan Buku Sastra Betawi Dari Kebuntuan?

 Pentas Hiburan Buang Anggaran: Bisakah Bang Doel Selamatkan Buku Sastra Betawi Dari Kebuntuan?

“Baru pada Temu Sastra Indonesia 2012 di Jakarta saya bertemu Encang CGR. Ia sastrawan nasional yang tidak hanya menulis cerpen sejarah dan budaya tentang Betawi, Batavia, dan Jakarta, namun juga puisi dan esai dalam latar yang sama”

“Saya terhentak mengetahui ada orang Betawi yang tekun dan berdedikasi terhadap lokalitas sastra seperti dia. Rancangan buku puisinya juga menghentak saya. Sangat dalam, kuat, dan berisi. Atas buku garapannya, Kembang Goyang: Orang Betawi Menulis Kampungnya ~ Sketsa, Puisi & Prosa ~ 1900-2000 (Padasan, 2011), saya akan mencalonkan dia sebagai penerima Anugrah Budaya dari Pemprov Jawa Barat karena dalam Perda No. 5 Tahun 2003, orang Betawi, Cirebon dan Sunda diakui sebagai suku asli di wilayah Jawa Barat.”

“Mengherankan bila karya-karya Encang CGR yang mengangkat kampung halaman dalam sastra tulis dan bergema di kancah nasional, tidak dilirik Pemprov DKI Jakarta. Apa sesungguhnya yang terjadi?”

Ahmad Syubbanuddin Alwy, Budayawan Cirebon (1962-2015):

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, dijadwalkan menerima perwakilan Penerbit Padasan bulan ini. Pertemuan tersebut bertujuan menjajaki pemberian Kata Sambutan resmi untuk antologi fenomenal Kembang Goyang. Langkah ini memicu harapan: akankah Bang Doel meniru Pemerintah Norwegia yang rutin membeli buku-buku paling edukatif dari penerbit independen untuk didistribusikan ke perpustakaan kampus, sekolah, kelurahan, hingga kantor kedutaan?

Digagas oleh Chairil Gibran Ramadhan (CGR), budayawan Betawi asal Pondok Pinang, Kembang Goyang memuat karya para legenda seperti M. Balfas, Firman Muntaco, SM. Ardan, N. Susy Aminah Aziz, Aba Mardjani, dan penulis Betawi klasik lainnya.

Karya-karya sejarah ini sempat menjadi topik utama roadshow “Ngobrol Saptu” sepanjang Januari 2016 di Perpustakaan Taman Fatahillah, Sanggar Betawi Firman Muntaco Condet, serta Rumah Seni Asnur Depok lewat gerakan swadaya pecinta budaya dan Betawi Center Foundation.

Nilai Historis Tinggi yang Kerap Terabaikan Pimpinan Jakarta

Sejak cetakan pertama habis diburu wartawan, budayawan, sejarawan, hingga akademisi, Kembang Goyang diakui sebagai kompendium jalan pintas untuk memahami evolusi ejaan, bahasa, serta sejarah sosial Batavia-Jakarta selama satu abad.

Pakar Bahasa FIB UI, Dr. Ibnu Wahyudi, menegaskan bahwa antologi ini memiliki nilai historis istimewa sebagai komitmen intelektual yang nyata.

Sayangnya, dari era Fauzi Bowo hingga Anies Baswedan, karya vital ini tak pernah mendapatkan apresiasi resmi maupun kelembagaan dari Pemprov DKI Jakarta. Padahal, pada pembukaan Kongres Kebudayaan Betawi, buku ini telah dibagikan secara cuma-cuma kepada para pejabat dinas dan enam tokoh kunci Betawi, termasuk Margani Mustar, Effendy Yusuf, Eddy Nalapraya, Nahrowi Ramli, Tatang Hidayat, dan Fauzi Bowo.

Sentilan Kritik untuk Lembaga dan Komunitas Cendekia

Inisiatif Rano Karno juga dipicu oleh minimnya respons dari Betawi Academia saat diajak mendukung penerbitan edisi kedua Kembang Goyang (format hardcover) demi menyambut HUT ke-500 Kota Jakarta pada Juni 2027. Padahal, forum yang dideklarasikan pada Mei 2025 ini diisi oleh para guru besar dan akademisi Betawi dengan misi utama memajukan pendidikan dan kebudayaan.

CGR menilai Betawi Academia seharusnya menjadi garda depan gerakan intelektual kaum Betawi. Harapannya, perhatian publik tidak selalu habis untuk panggung hiburan besar yang menguras anggaran tanpa menyisakan jejak sejarah.

Pelajaran dari Gerakan Mandiri dan Dukungan Pihak Luar

Fenomena minimnya kepedulian lokal juga terlihat pada gerakan “Jual Buku untuk Cetak Buku” demi menerbitkan karya almarhumah Mona Lohanda, The Kapitan Cina of Batavia. Sejak hak terbit dipegang pada 2012 hingga bertahun-tahun pasca wafatnya sejarawan tersebut pada 2020, tak ada lembaga atau tokoh Tionghoa lokal yang tergerak menjadi sponsor.

Dukungan nyata justru datang dari figur lintas latar belakang seperti Prof. Dr. Pudentia MPSS, Dr. Bondan Kanumoyoso, Hendaru Tri Hanggoro, Idrus F. Shahab, Yaprita Sirait SH, dan Prof. Dr. Edi Sukardi.

Kondisi ini mempertegas fakta historis, di mana buku-buku penting Mona Lohanda terdahulu justru selalu dicetak atas dukungan lembaga asing seperti Ford Foundation (AS), KITLV (Belanda), dan Toyota Foundation (Jepang).

Kini, publik menantikan apakah Rano Karno mampu membuat gebrakan cerdas dan intelek di ranah politik Indonesia, dengan memastikan pemikiran serta literature Betawi diabadikan secara layak.***

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *