Dari Kebun 20 Hektare, Kopi Talang Betong Kini Tembus Bali

 Dari Kebun 20 Hektare, Kopi Talang Betong Kini Tembus Bali

PRABUMULIH, KORANPLUS.COM – Siapa sangka, Kota Prabumulih memiliki sentra perkebunan kopi yang mulai berkembang dan menghasilkan produk olahan sendiri.

Sentra kopi tersebut berada di Desa Tanjung Telang, Kecamatan Prabumulih Barat. Kopi Robusta yang dibudidayakan masyarakat setempat kini telah dipanen dan diolah menjadi bubuk kopi dengan merek Kopi Talang Betong.

Kepala Desa Tanjung Telang, Yudiman, mengatakan saat ini terdapat sekitar 20 hektare lahan yang ditanami kopi Robusta. Sebagian tanaman kopi tersebut sudah memasuki masa panen dan hasilnya mulai diolah menjadi produk siap jual.

Menurut Yudiman, pengolahan kopi tersebut dilakukan oleh UMKM binaan Pemerintah Desa Tanjung Telang. Jika sebelumnya proses produksi dilakukan di Yogyakarta, kini pengolahan mulai dilakukan langsung di desa.

“Awalnya diproduksi di Jogja. Tetapi kini sudah kita mulai produksi di Desa Tanjung Telang,” ungkap Yudiman saat dibincangi awak media, Senin (5/10/2026).

Ia menjelaskan, selama sekitar setengah tahun terakhir, kopi hasil perkebunan masyarakat telah dipanen, diolah, dan dipasarkan. Pemasarannya tidak hanya di wilayah Prabumulih, tetapi juga telah menjangkau Muara Enim hingga sejumlah daerah di luar Sumatera.

“Sudah dipasarkan di Prabumulih hingga Muara Enim. Bahkan sampai Sleman dan Bali,” katanya.

Yudiman menambahkan, Kopi Talang Betong memiliki cita rasa yang tidak kalah dengan produk kopi lainnya. Produk tersebut tersedia dalam kemasan 100 gram dengan harga Rp14 ribu.

“Kalau satu kilogram Rp140 ribu,” jelasnya.

Pengembangan UMKM kopi ini, lanjut Yudiman, dimotori Darmisi, putra asli Desa Tanjung Telang. Pemerintah Desa Tanjung Telang memberikan dukungan terhadap pengembangan usaha tersebut agar produk lokal semakin berkembang dan dikenal masyarakat luas.

“Kita sangat mendukung. Semoga kopi asli Desa Tanjung Telang makin dikenal dan UMKM-nya semakin besar,” harapnya.

Keberadaan Kopi Talang Betong diharapkan tidak hanya menjadi produk unggulan desa, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui pengembangan perkebunan, pengolahan, hingga pemasaran produk kopi lokal.

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *