Kenapa Iran Terjadi Demo Besar-besaran?
Warga Iran berkumpul sambil memblokir jalan selama protes di Kermanshah, Iran pada 8 Januari 2026. Foto: Kamran / via Getty Images
KORANPLUS.COM – Iran kembali diguncang demonstrasi besar-besaran setelah nilai mata uang rial jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah. Gelombang protes ini mulai mencuat pada 28 Desember, ketika para pedagang menutup toko dan turun ke jalan-jalan Teheran untuk meluapkan kemarahan atas runtuhnya daya beli.
Saat ini, (15/1/2026), 1 dolar AS setara sekitar 1,1 hingga 1,3 juta rial, membuat nilai rial begitu kecil hingga di banyak aplikasi penukar mata uang dibulatkan menjadi US$0,00. Situasi ini memicu kepanikan luas di tengah masyarakat, diperparah oleh inflasi yang menembus 40–42 persen.

Krisis ekonomi kian terasa di kehidupan sehari-hari. Harga pangan melonjak lebih dari 70 persen, biaya kesehatan naik sekitar 50 persen, sementara barang kebutuhan pokok seperti minyak goreng dan daging makin sulit dijangkau. Tekanan ekonomi inilah yang menjadi pemantik awal kemarahan publik.

Di Teheran, ribuan pedagang menutup toko di kawasan strategis seperti Grand Bazaar dan Jalan Saadi. Aksi serupa menyebar ke kota-kota besar lain, termasuk Isfahan, Shiraz, dan Mashhad. Polisi antihuru-hara dikerahkan, dan gas air mata ditembakkan untuk membubarkan massa.
Kejatuhan nilai rial juga berdampak langsung ke lingkar kekuasaan. Gubernur Bank Sentral Iran, Mohammad Reza Farzin, mengundurkan diri di tengah tekanan publik, menambah kesan bahwa krisis ini telah memasuki fase serius.
Protes ini disebut sebagai yang terbesar sejak 2022, ketika kematian Mahsa Amini memicu demonstrasi nasional. Kali ini, amarah ekonomi menjadi pintu masuk bagi tuntutan yang lebih luas. Mahasiswa dari berbagai universitas ikut bergabung, dan demonstrasi menyebar ke berbagai wilayah.

Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia Iran yang berbasis di Amerika Serikat, protes telah dikonfirmasi terjadi di 186 kota dan desa di seluruh 31 provinsi. Lebih dari 10.000 demonstran dilaporkan ditangkap, meski belum ada angka pasti mengenai jumlah total peserta aksi.
Seiring meluasnya demonstrasi, tuntutan massa pun bergeser. Di berbagai aksi, terdengar slogan-slogan yang menentang Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Dukungan terhadap Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang hidup di pengasingan, juga makin menguat sebagai simbol perlawanan terhadap rezim saat ini.
Tekanan ekonomi Iran selama ini diperparah oleh sanksi internasional, pembekuan aset di luar negeri, serta kekhawatiran konflik baru di kawasan. Di dalam negeri, masalah salah urus dan dugaan korupsi membuat kepercayaan publik terhadap pemerintah kian runtuh.
Kombinasi krisis ekonomi, tekanan geopolitik, dan kekecewaan politik itulah yang kini mendorong Iran ke situasi paling rapuh dalam beberapa tahun terakhir. Demonstrasi tak lagi sekadar soal nilai mata uang, tetapi tentang masa depan negara.