Skandal Paket MBG Palembang: Bocah SD Rela Menunggu hingga Jam 8 Malam Demi Makan, Guru Pulang Larut Sambil Menangis

 Skandal Paket MBG Palembang: Bocah SD Rela Menunggu hingga Jam 8 Malam Demi Makan, Guru Pulang Larut Sambil Menangis

Menyoroti penuturan seorang guru SD di Palembang, Sumatera Selatan terkait dugaan keterlambatan pembagian paket MBG untuk siswa sekolah. (Instagram.com/@mhira_wati)

KORANPLUS.COM – Sebuah potret memprihatinkan menyelimuti pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Bukannya membawa keceriaan, distribusi paket makanan di SD Indo Pertiwi justru menyisakan duka dan kelelahan mendalam bagi para siswa dan tenaga pendidik.

Mhira Wati, seorang guru di sekolah tersebut, tak lagi mampu membendung rasa kecewanya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya (@mhira_wati) pada Jumat (13/3), ia membagikan realita pahit di mana paket MBG untuk jatah empat hari baru tiba di sekolah saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.47 WIB.

Menanti di Kegelapan Malam

Dalam video yang viral tersebut, terlihat sejumlah siswa masih bertahan di lingkungan sekolah meski matahari telah lama terbenam. Mereka, bersama para orang tua yang setia mendampingi, terpaksa menunggu berjam-jam demi hak yang seharusnya mereka terima di pagi atau siang hari.

“Pertama kali dalam sejarah di sekolah saya, MBG untuk 4 hari tiba di sekolah jam 19.47 malam,” tulis Wati dengan nada getir.

Ketidakteraturan jadwal ini berdampak sistemik. Para guru yang seharusnya sudah beristirahat di rumah, terpaksa bertahan hingga pukul 21.00 WIB lewat untuk memastikan distribusi selesai.

“Mau ditolak tapi kasihan bagi yang sudah lama menunggu,” imbuhnya.

Siswa Pingsan dan Kekacauan di Lapangan

Kondisi di lapangan digambarkan sangat jauh dari kata ideal. Wati menuturkan bahwa situasi menjadi rusuh dan berantakan karena kelelahan yang memuncak. Mirisnya lagi, ia mengungkapkan ada siswa yang sampai jatuh pingsan akibat terlalu lama menunggu dalam kondisi fisik yang terkuras.

Ironisnya, kejadian ini disinyalir bukan yang pertama kali. Pihak sekolah mengaku sudah berulang kali melayangkan protes kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku pengelola dapur, namun suara mereka seolah membentur dinding tebal.

“Rusuh, capek, berantakan, siswa ada yang pingsan. Protes ke SPPG sudah sering, tapi tidak ada perubahan,” tegas Wati.

Viral dan Menjadi Sorotan Publik

Hingga Sabtu (14/3) sore, unggahan tersebut telah meledak di media sosial dengan ditonton lebih dari 125 ribu kali. Netizen pun ramai-ramai mengecam lambatnya koordinasi pihak pengelola dan menuntut evaluasi total agar program nasional ini tidak justru menyiksa para siswa yang menjadi sasaran utama.

Kini, publik menanti respons tegas dari dinas terkait di Palembang untuk membenahi manajemen distribusi yang dinilai carut-marut tersebut.***

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *