Keajaiban di Tengah Desing Peluru, Graham Arnold Bawa Irak Ukir Sejarah Lolos ke Piala Dunia 2026

 Keajaiban di Tengah Desing Peluru, Graham Arnold Bawa Irak Ukir Sejarah Lolos ke Piala Dunia 2026

KORANPLUS.COM – Mohannad Ali Kadhim menatap ke langit dan berteriak kegirangan, sementara emosi meluap menyelimuti penjaga gawang Ahmed Basil Al-Fadhli yang tersungkur sujud di atas rumput.

Pelatih Graham Arnold dikerubungi di pinggir lapangan, sebelum akhirnya digendong di atas bahu para pemainnya sambil mengibarkan bendera Irak di tangannya, dipersembahkan kepada para penggemar yang euforia di tribun.

Di belahan dunia lain, pemandangan di Baghdad, Basra, Mosul, dan Erbil saat warga Irak merayakan kemenangan di bawah sinar matahari pagi, tak kalah mencolok.

Video yang diunggah ke media sosial menunjukkan kerumunan penggemar berkumpul di mana pun ada layar yang cukup besar, meledak dalam kegembiraan saat Ali Ibrahim Al-Hamadi dan Aymen Hussein mencetak gol dalam kemenangan 2-1 atas Bolivia di Estadio BBVA, Guadalupe, Meksiko, Selasa (31/3) waktu setempat.

Irak unggul lebih dulu setelah Ali Alhamadi mencetak gol di menit 10. Namun, di menit 38, Moses Paniagua membalas hingga kedudukan menjadi 1-1. Namun, Aymen Hussein membawa keunggulan Irak di menit 53. Hingga peluit akhir, kedudukan bertahan 2-1 untuk keunggulan Irak.

Untuk kali pertama dalam 40 tahun, dan hanya untuk kedua kalinya dalam sejarah mereka, Singa Mesopotamia berhasil mengamankan tiket ke Piala Dunia FIFA.

Menembus Kepungan Perang dan Logistik

Belum lama bersisanya, takdir seolah-olah direnggut dari tangan mereka bukan karena kesalahan mereka sendiri. Ketegangan militer di Timur Tengah memicu reaksi berantai yang membuat ruang udara ditutup dan penerbangan dihentikan.

Arnold, yang menggantikan Jesús Casas tahun lalu, sempat terdampar di UEA, sementara para pemainnya menghadapi kendala visa karena kedutaan yang ditutup, sehingga sulit untuk memasuki Meksiko sebagai tuan rumah playoff.

Sempat ada rumor Irak akan menggantikan posisi Iran jika negeri yang tengah berperang dengan AS/Israel itu menarik diri,. Namun kabar itu segera meredup.

FIFA juga tidak memberikan penundaan jadwal. Alhasil, tim harus menempuh perjalanan darat ke Amman, Yordania, lalu terbang selama 20 jam dengan total perjalanan lebih dari tiga hari. Persiapan ini jauh dari kata ideal.

Tangan Dingin Graham Arnold

Kemenangan ini adalah kejayaan bagi rakyat Irak yang gila bola, namun juga kemenangan pribadi bagi Graham Arnold.

Pelatih asal Australia ini kini menjadi orang Australia pertama yang membawa dua negara berbeda ke Piala Dunia. Bersama stafnya, termasuk mantan pelatih Manchester United, René Meulensteen, mereka kini menjadi pahlawan bagi 46 juta orang.

“Dalam 10 bulan saya bekerja, saya rasa tujuh bulannya saya habiskan di Baghdad karena saya ingin mengenal budayanya,” ujar Arnold.

Ia menciptakan mentalitas “kita melawan dunia,” mengubah keraguan dan kemalangan menjadi bahan bakar semangat.

Arnold sudah terbiasa dengan situasi sulit. Empat tahun lalu, saat melatih Australia (Socceroos), ia menavigasi kualifikasi tersulit akibat pandemi dan aturan perbatasan yang ketat.

Uniknya, Irak kini menyalip Indonesia sebagai negara paling sibuk di babak kualifikasi dengan memainkan 21 pertandingan—hanya kalah dari rekor Australia milik Arnold empat tahun lalu.

Menuju Panggung Dunia 2026

Dengan mengalahkan Bolivia, Irak akhirnya mengakhiri perjalanan kualifikasi selama 867 hari sebagai tim terakhir yang meraih tiket ke Piala Dunia.

Arnold berperan sebagai “figur ayah” bagi para pemainnya, menjauhkan mereka dari hiruk-pikuk media sosial agar fokus pada kebanggaan membela negara di tengah situasi sulit di tanah air.

Irak memiliki pemain yang juga merumput di BRI Super League di Indonesia, Frans Putros. Namun, dalam pertandingan melawan Bolivia, Frans hanya duduk di bangku cadangan.

Di Piala Dunia nanti, Singa Mesopotamia akan bergabung di Grup I bersama Prancis, Senegal, dan Norwegia. Ini akan menjadi pertemuan kembali antara Arnold dan Didier Deschamps (pelatih Prancis).

Meski Irak datang dengan ekspektasi rendah, setelah berhasil melewati segala rintangan mustahil hanya untuk sampai ke sana, Arnold tentu tidak akan gentar menghadapi apa pun.***

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *