Ketika Nintendo Menolak Sony: Proyek Gagal yang Justru Melahirkan PlayStation

 Ketika Nintendo Menolak Sony: Proyek Gagal yang Justru Melahirkan PlayStation

Ilustrasi Bapak Playstation dan Bapak Nintendo. Foto: Istimewa

KORANPLUS.COM – Pada akhir 1980-an, Nintendo dan Sony sebenarnya sempat berada di jalur yang sama. Keduanya menjalin kerja sama strategis untuk mengembangkan add-on berbasis CD-ROM bagi konsol Super Nintendo Entertainment System (SNES). Proyek ini diberi nama “Play Station”, ditulis dua kata, dan diproyeksikan menjadi lompatan besar di industri game yang saat itu masih didominasi cartridge.

Proyek ambisius tersebut dipimpin oleh Ken Kutaragi, teknisi Sony yang sebelumnya sukses merancang chip audio untuk SNES. Keberhasilan Kutaragi di proyek audio ini membuat Sony semakin percaya diri untuk melangkah lebih jauh ke dunia konsol sebuah wilayah yang saat itu masih dikuasai Nintendo.

NES Control Deck. Foto: Wikipedia

Namun kerja sama itu runtuh secara dramatis pada Consumer Electronics Show (CES) 1991. Sehari setelah Sony mengumumkan kolaborasi mereka ke publik, Nintendo justru membuat langkah mengejutkan. Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada Sony, Nintendo mengumumkan kemitraan baru dengan Philips.

Keputusan mendadak tersebut dipicu oleh kekhawatiran Nintendo terhadap skema lisensi CD yang dinilai memberi Sony terlalu banyak kendali, terutama soal distribusi dan hak cipta. Demi mempertahankan kontrol penuh atas ekosistemnya, Nintendo memilih mundur dan beralih ke Philips.

Alih-alih menghentikan proyek, Ken Kutaragi justru berhasil meyakinkan manajemen Sony untuk melanjutkan pengembangan konsol secara mandiri. Dari titik inilah sejarah industri game berubah. Sony kemudian mengembangkan konsol berbasis CD yang sepenuhnya berdiri sendiri.

Prototipe PlayStation asli dari awal 1990-an yang disimpan oleh Ken Kutaragi. Foto: Ken Kutaragi

Hasilnya adalah PlayStation, yang resmi dirilis pada 1994. Konsol ini dengan cepat meraih kesuksesan besar dan menjelma menjadi salah satu mesin game paling berpengaruh sepanjang sejarah, sekaligus pesaing utama Nintendo. PlayStation mengubah peta persaingan industri game global dan menjadi fondasi dominasi Sony di dunia konsol hingga hari ini.

Sementara itu, kerja sama Nintendo dengan Philips hanya menghasilkan beberapa game CD-i yang kemudian dianggap gagal secara komersial. Sebuah ironi, mengingat keputusan Nintendo meninggalkan Sony justru melahirkan rival terbesarnya sendiri.

PlayStation dan Nostalgia 90-an

Peluncuran PlayStation pada 1994 bukan hanya soal teknologi, tetapi juga perubahan budaya bermain. Konsol ini membawa pengalaman game dari mesin arcade dan dingdong berbasis koin ke ruang keluarga.

Teknologi CD-ROM memungkinkan grafis lebih tajam, suara lebih jernih, serta kapasitas game yang jauh lebih besar dibanding cartridge. Di Jepang, PlayStation mencatat penjualan lebih dari 100 ribu unit hanya dalam waktu singkat setelah dirilis pada 3 Desember 1994.

Kesuksesan tersebut berlanjut ke Amerika Serikat pada 9 September 1995. Di sana, PlayStation langsung menjadi pesaing serius Sega Saturn dan Nintendo 64. Keunggulan Sony terletak pada banyaknya judul game serta dukungan kuat dari pengembang pihak ketiga.

Di Indonesia, PlayStation menjadi simbol masa kecil generasi 1990-an. Rental PlayStation bermunculan di berbagai kota, menjadi tempat berkumpul anak-anak dan remaja bergiliran main, rebutan stik, dan menghabiskan waktu bersama. PlayStation bukan sekadar konsol, tetapi bagian dari memori kolektif satu generasi.

Meski kini telah memasuki era PlayStation generasi terbaru, konsol pertama Sony tetap dikenang sebagai titik awal revolusi game rumahan. Sebuah produk yang lahir dari kerja sama yang gagal, tetapi justru menjelma menjadi legenda dan mengubah industri hiburan digital selamanya.

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *