Suram! Wakil Italia Berguguran Di Kompetisi Eropa
Tersingkirnya Bologna Membuat Italia Tanpa Wakil Di Semifinal Kompetisi Eropa Musim Ini. Foto: bolognafc.it
KORANPLUS.COM – Setelah gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2026, rapor merah sepakbola Italia berlanjut di ajang kompetisi klub eropa. Hal ini dikarenakan tidak mampunya klub-klub asal Italia menembus lolos babak semifinal kompetisi Eropa musim ini.
Dua wakil terakhir Italia di kompetisi Eropa, yaitu Bologna dan Fiorentina tak bedaya dan harus gigit jari akibat gagal melanjutkan langkah ke babak empat besar.
Bologna tersingkir dari ajang Europa League usai kalah kandang maupun tandang dari wakil Inggris Aston Villa. Kalah 1-3 di kandang sendiri, Bologna tidak mampu membuat keajaiban ‘comeback’ di markas Aston Villa, pada Jumat (17/4) dini hari WIB.
Lebih tragis, Bologna justru dibantai 4-0 oleh Villa sehingga kalah aggregate 7-1. Gol-gol dari Ollie Watkins (16), Emi Buendia (26), Morgan Rogers (39), dan Ezri Konsa (89), mengubur impian Bologna untuk bisa tembus ke semifinal Liga Europa musim ini.
Hal serupa juga dialami Fiorentina di ajang Conference League. La Viola kalah 0-3 pada leg pertama di markas Crystal Palace. Meski menang 2-1 di kandang sendiri, Stadion Artemio Franchi pada leg kedua, Namun hasil itu tidak cukup bagi Fiorentina, karena kalah agregat 2-4.
Tumbangnya Bologna dan Fiorentina membuat Italia tak lagi memiliki delegasi di ajang kompetisi eropa musim ini. Pasalnya, di Liga Champions, klub-klub asal Italia telah lebih dulu bertumbangan.
Atalanta menjadi wakil terakhir Italia yang bertahan di Liga Champions, sebelum akhirnya disingkirkan Bayern Munchen dengan skor agregat yang cukup telak 2-10, pada babak 16 besar. La Dea menjadi bulan-bulanan Munchen usai dibantai 1-6 di leg pertama, lalu berlanjut tumbang dengan skor 1-4 di leg kedua.
Sedangkan Inter Milan dan Juventus lebih dulu tersingkir di babak playoff menuju 16 besar. Inter Milan kalah dari wakil Norwegia Bodo/Glimt, sedangkan Juventus didepak oleh wakil Turki Galatasaray.
Kenyataan ini pun menjadi tamparan keras sekaligus pekerjaan rumah, bagi federasi sepakbola Italia yang tengah melakukan reformasi di tubuh organisasi, demi mengembalikan kejayaan persepakbolaan negeri pizza.