Gawat! Rupiah Sentuh Level Terlemah Sepanjang Masa, Begini Strategi Darurat Bank Indonesia
“BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, DNDF, maupun NDF di offshore market,” jelas Destry dalam keterangan resminya. Foto: IG @infobank.official
KORANPLUS.COM – Nilai tukar rupiah mencatatkan tinta merah dalam sejarah keuangan Indonesia. Pada Selasa (7/4), mata uang Garuda resmi menyentuh level terlemahnya sepanjang masa, yakni Rp17.105 per dolar AS. Angka ini melampaui titik terendah saat krisis moneter 1998 yang kala itu berada di level Rp16.800.
Menanggapi guncangan hebat ini, Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar kini menjadi prioritas utama Bank Sentral di tengah tingginya ketidakpastian global.
BI berkomitmen untuk mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter (OM) guna meredam gejolak.
“BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang, baik di spot market, DNDF, maupun NDF di offshore market,” jelas Destry dalam keterangan resminya.
Efek Konflik Timur Tengah: Ancaman atau Peluang?
Meskipun tekanan begitu besar, BI melihat adanya sisi positif dari eskalasi konflik di Timur Tengah. Destry menjelaskan bahwa dampak konflik tersebut bersifat dua arah:
- Kenaikan Harga Komoditas: Hal ini menguntungkan posisi Indonesia sebagai negara eksportir.
- Keseimbangan Ekonomi: Pendapatan dari ekspor komoditas diharapkan mampu mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar rupiah akibat ketidakpastian global.
Detail Pergerakan Pasar
Pada penutupan perdagangan tersebut, rupiah tercatat melemah 70 poin atau turun 0,41 persen dari hari sebelumnya. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) menempatkan posisi rupiah sedikit lebih kuat namun tetap di zona merah, yakni pada level Rp17.092 per dolar AS.
Langkah intervensi BI kini menjadi sorotan utama pelaku pasar untuk melihat sejauh mana mata uang kebanggaan Indonesia ini mampu bertahan dari gempuran dolar AS.***