Dari Kopi Rp 15 Ribu hingga Paket Intim Rp 750 Ribu Kopi Pangku PIK Bikin Geger

 Dari Kopi Rp 15 Ribu hingga Paket Intim Rp 750 Ribu Kopi Pangku PIK Bikin Geger

Daftar menu Kopi Pangku PIK. Foto: Dok.Istimewa

KORANPLUS.COM — Sosok kedai Kopi Pangku PIK membuat perhatian netizen +62 setelah video dan daftar menunya viral di media sosial pada Januari 2026. Kedai yang disebut berada di kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2), Jakarta Utara ini jadi perbincangan karena konsep dan daftar paket yang tak biasa.

Dalam rekaman video yang beredar luas di TikTok dan Instagram, tampak pengunjung menikmati menu sambil duduk santai di kedai yang terlihat sederhana dengan kursi plastik dan menu katalog kertas laminasi. Di atas meja, terlihat jelas kolom daftar menu dengan kategori yang dinilai kontroversial oleh banyak netizen.

Pengunjung yang terlihat dalam video viral Kopi Pangku PIK. Foto: Dok.Istimewa

Menu makanan dan minuman pada dasarnya umum seperti kopi hitam, kopi susu, teh manis, serta Indomie goreng atau kuah dengan harga mulai sekitar Rp 12 000–20 000. Namun yang jadi sorotan utama adalah kolom di sebelahnya bertajuk “Paket Enak-Enak”.

Penampakan daftar menu Kopi Pangku PIK yang viral di media sosial. Foto: Dok.Istimewa

Daftar paket ini terbagi dalam beberapa tingkatan dengan keterangan layanan yang cukup eksplisit:

  • Reguler (Rp 150 000): Pangku + Ngobrol
  • Premium (Rp 300 000): Pangku + Ngobrol + Pegang
  • Special (Rp 750 000): Pangku + Intim

Harga dan istilah ini langsung memicu gelombang reaksi di kolom komentar unggahan video. Banyak netizen yang geleng kepala, penasaran, bahkan merasa absurd melihat daftar layanan tambahan itu tercetak bersama menu kopi dan camilan di tengah kawasan elit PIK yang selama ini dikenal sebagai area kuliner modern dan hangout anak muda.

Fenomena Kopi Pangku PIK sendiri jadi semakin viral setelah banyak penonton yang datang ke lokasi dan merekam suasana kedainya, memperlihatkan pelanggan menikmati “kopi pangku” sambil duduk bersama pramusaji wanita sebuah hal yang kemudian memunculkan perdebatan soal batas antara konsep hiburan, layanan tambahan, dan tempat nongkrong biasa di kafe.

Soal maksud detail dari paket layanan tersebut atau apakah konsep itu hanya gimmick marketing belaka. Namun fenomena ini berhasil menjadi topik hangat perbincangan publik di media sosial, baik dari sudut pandang hiburan, norma sosial, maupun budaya nongkrong urban.

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *