Ternyata Ada Kisah Menarik di Balik Pergelaran Esports World Cup Sukses di Paris

 Ternyata Ada Kisah Menarik di Balik Pergelaran Esports World Cup Sukses di Paris

KORANPLUS.COM – Prancis sedang bersiap menyambut gelaran Piala Dunia FIFA 2026 ketika sebuah kesempatan yang tak terduga datang mengetuk pintu. Sedikit lebih dari sebulan kemudian, Paris bersiap menjadi tuan rumah bagi Piala Dunia lainnya—hanya saja kali ini bukan untuk cabang olahraga yang secara tradisional diidentikkan dengan negara tersebut.

Esports World Cup (EWC), setelah dua edisi sukses di Riyadh, Arab Saudi, mendadak kehilangan tempat penyelenggaraan akibat kekhawatiran keselamatan yang dipicu oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.

Pihak penyelenggara membutuhkan kota yang mampu mengeksekusi gelaran ini dalam tenggat waktu yang sangat singkat tanpa mengorbankan infrastruktur, logistik, maupun pengalaman para penggemar. Dengan rekam jejak teruji dalam menggelar turnamen-turnamen kelas dunia, ibu kota Prancis tersebut menjadi kandidat utama.

Lalu muncullah angka yang menakjubkan: pemerintah Arab Saudi membayar Prancis sebesar $250 juta (sekitar Rp4 triliun) untuk menyelamatkan ajang ini. Selain itu, dengan total investasi turnamen yang mencapai lebih dari $400 juta, sebagaimana dikonfirmasi oleh pemilik perusahaan esports global terkemuka asal India, gelaran raksasa ini bisa saja terancam batal tanpa adanya kerja sama berbayar tersebut.

Misi Mustahil: 8 Pekan Menuju Pembukaan

Keputusan untuk memindahkan acara ke Paris memang sangat jelas dan tegas. Namun, mewujudkannya di lapangan adalah tantangan yang sama sekali berbeda. Penyelenggara hanya memiliki waktu delapan minggu untuk membangun acara yang mengumpulkan lebih dari 2.000 pemain, mengurus ribuan visa—karena hanya 60 peserta yang berasal dari Paris—dan menyambut jutaan penggemar selama tujuh minggu penyelenggaraan. Lokasi acara difinalisasi, sistem logistik dirombak total, dan persiapan dipacu dalam kecepatan tinggi.

“Jelas kami membutuhkan pengganti yang solid. Kami butuh tempat yang sanggup menampung bobot besar dari EWC. Namun di atas segalanya, para pemain harus terurus dengan baik. Kami memiliki lebih dari 2.000 pemain, ditambah 1.000 lebih staf pendukung. Itu menjadi prioritas utama kami. Baru setelah hal itu beres, kami bisa melanjutkan urusan logistik,” ujar Mike McCab, COO sekaligus Wakil CEO Esports Foundation.

Transisi tersebut berjalan begitu mulus sehingga pada 2 Juli, area Porte de Versailles tampak seolah-olah memang ditakdirkan untuk menjadi tuan rumah Esports World Cup. Bintang utama sekaligus wajah dari acara ini, Magnus Carlsen, terpampang di berbagai baliho dan poster di seluruh penjuru

kota, bersanding dengan bintang League of Legends ‘Faker’ dan Cristiano Ronaldo.

Para penggemar memadati lokasi sehari sebelum pembukaan. Nama-nama besar seperti Karim Benzema, Nick Kyrgios, hingga pembalap F1 Pierre Gasly dipastikan hadir sebagai daya tarik utama. Carlsen sendiri dijadwalkan melakoni laga eksibisi melawan bintang NBA Giannis Antetokounmpo pada Hari ke-1. Meski ia mendadak sakit dan batal tampil, ketelibatannya yang tertunda tak menyurutkan antusiasme. Di dalam dan luar arena, atmosfernya tak ubahnya sebuah festival raksasa.

“Ketika Anda hanya punya waktu delapan pekan, atau sekitar 50 hari, untuk merencanakan acara yang dihadiri lebih dari 2.000 pemain dan jutaan penggemar, beroperasi selama tujuh minggu, melibatkan 450 personel siaran, serta membutuhkan panggung yang dinamis dan berdesain khusus—ada begitu banyak masalah, lebih dari yang bisa Anda bayangkan. Namun, kami memiliki tim luar biasa yang mampu mengubah hal ini menjadi kenyataan,” tutur McCab.

“Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Tidak ada acara olahraga global lain dalam sejarah yang berpindah lokasi dalam hitungan bulan, apalagi minggu. Ini benar-benar revolusioner di dunia hiburan olahraga. Ini bisa terwujud hanya berkat kemitraan dengan pejabat pemerintah yang luar biasa, dukungan pengembang (publisher) dan klub, serta sambutan hangat dari penggemar di Paris.”

Dari Darurat Menjadi Format Global Baru?

Namun demikian, pencapaian ini mungkin belum cukup untuk mengubah statusnya. Tahun depan, EWC akan kembali ke Arab Saudi, yang berarti edisi Paris—terlepas dari segala kemeriahannya—bisa jadi hanyalah sebuah rencana darurat satu kali saja.

Meski berawal dari pemindahan mendadak, kejadian ini justru mempercepat ambisi jangka panjang penyelenggara: mengubah Piala Dunia Esports menjadi tontonan global yang berkeliling dunia, di mana kota-kota berbeda bergantian menjadi tuan rumah sementara Riyadh tetap menjadi rumah permanen dan pusat operasinya. Paris, dengan daya tarik global dan sambutan hangatnya, telah memberikan pembuktian konsep yang sangat kuat.

Bagi penyelenggara, pergeseran mendadak ini membuktikan bahwa turnamen dapat berpindah, beradaptasi, dan tetap sukses dalam skala besar. Pertanyaannya sekarang: apakah Paris hanya sebuah pengganti yang beruntung, atau merupakan sekilas pandang dari era baru di mana Piala Dunia Esports benar-benar milik dunia?

“Ada strategi mendasar di sini. Salah satunya tentu saja mengglobalkan empat bagian acara ini. Pada awalnya, kami membangun produk dan memastikan produk ini siap untuk dirotasi. Apa yang terjadi di Paris adalah kami mempercepat langkah tersebut. Sejujurnya, rencana rotasi itu tadinya untuk tahun 2028, 2029, atau 2030, namun mendadak ditarik ke tahun 2026. Ini membuktikan bahwa ajang ini memang sudah siap untuk berkeliling dunia,” jelas Faisal Bin Homran, Chief Product Officer Esports Foundation.

“Sejauh ini, edisi ini sangat sukses dan kami belajar banyak. Saya pikir ke depannya kita akan melihat Piala Dunia ini berotasi. Kami belum tahu di mana atau kapan, tetapi pada akhirnya, ini akan menjadi seperti ‘IPL Global’ bagi dunia esports, dengan Riyadh sebagai pusat dan tuan rumah utamanya.”

Kejuaraan Dunia ESports ini digelar sejak 2 Juli hingga 23 Agustus di Paris Expo Porte de Versailles, Paris, Prancis, berhadiah total Rp1,1 triliun.***

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *