Sempat Jatuhkan Lawan Dua Kali, Karier Gvozdyk di Zuffa Boxing Justru Berakhir Tragis, Dipecat Zuffa Boxing Via Email

 Sempat Jatuhkan Lawan Dua Kali, Karier Gvozdyk di Zuffa Boxing Justru Berakhir Tragis, Dipecat Zuffa Boxing Via Email

Oleksandr Gvozdyk kecewa dipecat Zuffa Boxing. Foto: Instagram/alex_gvozdyk

KORANPLUS.COM – Oleksandr Gvozdyk mengungkapkan bahwa kiprahnya di Zuffa Boxing berakhir hampir secepat saat dimulai. Mantan juara dunia kelas berat-ringan WBC ini mengklaim pihak promotor memutus kontraknya secara sepihak usai ia menelan kekalahan TKO dari Radivoje Kalajdzic pada Februari lalu.

Gvozdyk menyampaikan pengakuan tersebut dalam sebuah wawancara terbaru bersama vRINGe. Petinju asal Ukraina berusia 39 tahun itu menyebutkan bahwa pemutusan hubungan kerja tersebut disampaikan hanya melalui email, justru di saat ia sudah mulai kembali berlatih untuk persiapan naik ring lagi untuk duel berikutnya.

Ini adalah keputusan bisnis yang sangat kejam, bahkan untuk standar olahraga beladiri sekalipun. Satu kekalahan, satu ronde ketujuh yang buruk, dan pintu promotor langsung tertutup rapat baginya.

Gvozdyk menjelaskan bahwa klausul dalam kontraknya memang cukup eksplisit: jika seorang petinju kalah, promotor berhak memutus kerja sama.

“Mereka mengakhiri kontrak pada bulan Februari setelah kekalahan itu,” katanya. “Setiap promotor memang memiliki opsi tersebut jika seorang petinju menelan kekalahan.”

Ia menambahkan bahwa orang-orang di sekitar laga tersebut sebenarnya memuji aksi sengit yang ia tampilkan, yang membuat momen pemecatan ini terasa makin menyakitkan. Gvozdyk sempat beristirahat dan mulai berlatih kembali sekitar bulan Mei, hingga akhirnya ia baru menyadari pada April bahwa ada email masuk yang mengakhiri kesepakatan tersebut.

Pemecatan Gvozdyk Warnai Ambisi Tinju Dana White

Debut Gvozdyk di Zuffa Boxing sebenarnya bukan laga yang membosankan. Ia sempat menjatuhkan Kalajdzic sebanyak dua kali dan tampak mendominasi perolehan poin sebelum situasi berbalik drastis di ronde ketujuh.

Kalajdzic berhasil menjatuhkannya, lalu memaksa wasit menghentikan laga setelah knockdown berikutnya—mengubah duel yang tadinya dirancang sebagai panggung unjuk gigi sang veteran menjadi pengingat keras betapa kejamnya dunia tinju merusak rencana yang sudah tersusun rapi.

Karier sang mantan juara dunia memang sudah melewati banyak laga berat. Gvozdyk mengalahkan Adonis Stevenson pada 2018 untuk merebut gelar kelas berat-ringan WBC, sempat mempertahankan sabuknya, lalu takluk dari Artur Beterbiev dalam duel penyatuan gelar pada 2019.

Sempat memutuskan pensiun, ia kembali ke ring namun kalah angka dari David Benavidez pada 2024, sebelum akhirnya mengambil kesempatan di Zuffa Boxing melawan Kalajdzic pada Februari lalu.

Gvozdyk juga menggambarkan sistem kerja di Zuffa jauh lebih kaku dibandingkan model promotor tinju pada umumnya. Ia menyebut para petinju terikat aturan ketat mengenai perlengkapan bertanding, bahkan hingga warna celana dalam dan kaos kaki, yang ia ibaratkan seperti hidup di barak militer.

“Bersama Zuffa, rasanya seperti berada di barak,”  ungkapnya.

Meski begitu, ia tidak bermaksud mengkritik keseluruhan sistem tersebut. Gvozdyk mengakui bahwa format yang ketat ini juga menghilangkan pusingnya urusan birokrasi, karena petinju tidak perlu repot memikirkan sendiri detail seremoni masuk ring dan presentasi acara.

Hal ini sejalan dengan visi yang sering digaungkan bos UFC, Dana White, yang menginginkan produksi ajang yang lebih bersih, penentuan lawan yang lebih kompetitif, serta mengurangi kekacauan sabuk juara dari berbagai federasi yang selama ini menggerogoti olahraga tinju.

Sisi canggung dari sistem ini adalah nasib yang menimpa nama-nama veteran ketika mereka kalah dalam laga yang sebenarnya menarik.

Zuffa Boxing selama ini menjual konsep olahraga yang lebih lugas dan berfokus pada sisi kompetisi murni, tetapi pemecatan Gvozdyk menunjukkan bahwa di balik kemegahan itu, tetap ada sisi bisnis yang dingin dan tanpa kompromi.

Perusahaan yang sama yang gencar mendorong ambisi juara dunia bagi petinju seperti Jai Opetaia, bisa dengan sangat cepat membuang veteran yang dianggap tak lagi masuk dalam rencana jangka panjang mereka.

Bagi Gvozdyk, langkah selanjutnya kini masih samar. Di usia 39 tahun dengan tiga kekalahan dari Beterbiev, Benavidez, dan Kalajdzic, ia tak akan lagi mendapatkan jalan yang mudah.

Jika ia memilih bertarung lagi, itu kemungkinan besar karena ada promotor lain yang masih melihat nilai jual dari nama besarnya, pengalamannya, serta fakta bahwa walau kalah, The Nail (julukan Gvozdyk) masih sanggup membuat lawannya mandi keringat.***

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *